Header Ads

Reuni, Silaturrahim Keluarga Besar dan Kopdar Komunitas

www.inikebumen.net "MAAF saya tidak bisa ikut reuni, karena ada silaturrahim keluarga besar Bani Fulan," pamit seorang kawan.
Reuni, Silaturrahim Keluarga Besar dan Kopdar Komunitas
Achmad Marzoeki alias Kang Juki
Sementara dalam sebuah silaturrahim keluarga besar, seorang lelaki yang berangkat sendirian, beralasan istrinya sedang ikut reuni dengan teman sekolahnya.

Acara reuni sekolah atau dengan nama lain dan silaturrahim keluarga besar, RW atau desa, dipastikan menjamur setidaknya sampai sepekan usai lebaran.

Tak sedikit juga yang punya hajat mantu. Momentum lebaran dipilih tentu dengan harapan kerabat dan tetangga yang mudik bisa sekalian hadir. Sehingga acara walimatul 'urs atau resepsi pernikahannya kental dengan nuansa silaturrahim keluarga besar juga.

Lebaran, tak bisa dipungkiri memang menjadi tempat pertemuan dari kehidupan masa kini dan masa lalu. Perwujudannya melalui reuni dan silaturrahim keluarga besar.

Karena berbagai alasan, tak semua orang nyaman diketahui dua sisi kehidupannya, masa kini dan masa lalunya. Pada masa lebaran, maka orang-orang seperti ini akan memilih mengunjungi obyek-obyek wisata dengan rombongan terbatas, misalnya bersama istri dan anaknya saja.

Namun karena pada dasarnya, selain sebagai individu, manusia juga merupakan makhluk sosial, kebutuhan untuk berkumpul dengan banyak orang pasti ada. Perkembangan media sosial yang memberi ruang bagi masyarakat untuk membentuk komunitas baru tampaknya kemudian menjadi alternatif. Melalui facebook, line, whatsapp, telegram dan tidak ketinggalan juga callind, aplikasi baru kreasi gadis Kebumen Novi Wahyuningsih, masyarakat bisa membentuk komunitas baru melalui group media sosial.

Obrolan di tengah komunitas media sosial akan lebih bersifat kekinian. Berbeda dengan reuni atau silaturrahim keluarga besar. Kehidupan masa lalu tak jarang membebani dalam berkomunikasi. Maka mereka yang enggan menghadiri acara reuni atau silaturrahim keluarga besar pada masa lebaran, sekarang punya alternatif dengan mengadakan kopi darat (kopdar) komunitas.

"Bukannya dulu dia juara kelas ya? Sekarang kok cuma guru swasta."

"Eh, dia dulu Ketua OSIS kita ya, lha kok sekarang hanya jadi satpam."

"Sombong sekali dia sekarang setelah sukses. Tidak ingat dulu kalau ulangan sering ngepek jawabanku."

Sekali dua ucapan seperti itu akan terdengar pelan saat reuni. Begitu juga dalam silaturrahim keluarga besar. Kedua acara seperti itu terkadang tak bisa dihindari menjadi ajang pamer keberhasilan secara materi. Hal itu pula yang seringkali membuat orang enggan mendatanginya.

Namun bukan berarti kopdar komunitas terbebas dari gangguan dalam hubungan antar anggotanya. Persaingan untuk menjadi orang yang paling berpengaruh atau primadona komunitas sulit untuk dihindari. Di Kebumen, fenomena ini antara lain bisa dilihat dari group-group facebook, yang bertumbuhan dan sebenarnya merupakan pecahan dari group yang sudah ada sebelumnya.

Di sinilah perlunya memahami dan menghayati salah satu kunci dari silaturrahim. Dalam sebuah hadits disebutkan Rasulullah SAW bersabda,

“Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. at-Tirmidzi no. 1842 dari shahabat Anas bin Malik, Abu Daud no. 4292)

Dalam setiap kelompok pasti ada yang lebih tua, lebih kaya, lebih pandai dan segala kelebihan lainnya. Mereka dengan segala kelebihannya itu berkewajiban untuk menyayangi yang muda, miskin, bodoh dan segala kekurangannya. Namun sebaliknya yang masih muda, miskin, bodoh dan kekurangan lainnya, mestinya juga mau menghormati orang-orang yang menyayangi mereka.

Jika kedua belah pihak mengembangkan kedua sikap tersebut, maka harmoni berhubungan dalam suatu komunitas akan terjaga. Apalagi diiringi kesadaran bahwa roda kehidupan selalu berputar, kadang berada di atas, lain waktu harus menerima berada di bawah. Allah SWT mengingatkan,

"... Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)..." (QS. Ali Imran 140).

Acara apapun yang kita hadiri selama lebaran, baik reuni, silaturrahim keluarga besar maupun kopdar komunitas, mudah-mudahan membuat kita mampu menghayati substansi dari silaturrahim. Sehingga hubungan kita dengan orang-orang di sekitar kita semakin harmonis. Beragam persoalan yang tertunda penyelesaiannya akibat kebuntuan komunikasi, bisa segera terpecahkan. Semoga.(*)

Achmad Marzoeki alias Kang Juki 
Penulis novel "Pil Anti Bohong" dan "Silang Selimpat".
Powered by Blogger.