Subhanallah, Masjid Jogokariyan Punya Data Warga Miskin

Patut ditiru Takmir Masjid di Kebumen
Subhanallah, Masjid Jogokariyan Punya Data Warga Miskin
Peserta antusias mengikuti Pelatihan Manajemen Masjid dan bersemangat untuk memakmurkan masjid di lingkungan masing-masing.
www.inikebumen.net GOMBONG - Pelatihan Manajemen Masjid di Gedung Panti Muhammadiyah, PP Wiriosoedarmo, Gombong, Minggu, 14 November 2019 menggugah spirit takmir masjid dalam menjalankan tugasnya.

Pelatihan yang diikuti sekitar 100 orang peserta dari 26 takmir masjid di kawasan Gombong, Karanganyar dan Kebumen itu diselenggarakan Forum Pemberdayaan Masjid Kebumen.

Salah satu narasumbernya, adalah Ustadz drh Agus Abadi, Ketua Takmir Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Dalam kesempatan tersebut Agus berbagi pengalaman pengelolaan masjid yang kini sering menjadi rujukan takmir masjid lainnya.

Diceritakan Agus, Masjid Jogokariyan terletak di daerah kampung abangan pada tahun 1967.

"Pada tahun 1999 menyelenggarakan pemilihan ketua takmir secara demokratis. Takmir adalah pelayan, untuk memuaskan jamaah," cerita Agus.

Pada saat pemilihan takmir Masjid Jogokariyan, menurut Agus sekalian membuat database warga.

"Data warga meliputi berapa anggota keluarganya, sudah shalat belum, sudah mengaji belum," terang Agus.

Takmir Masjid Jogokariyan mempunyai data warga yang berada di bawah garis kemiskinan.

"Diadakan pengajian khusus oleh baitul mal, pulangnya mereka diberi sembako. Takmir juga membuat program ATM beras untuk jamaah dhuafa," imbuh Agus.

Kebutuhan ekonomi dan kesehatan jamaah menurut Agus juga diperhatikan.

"Untuk itu ada kotak infak subuh, kotak infak parkir, kotak infaq kematian dan lain-lain. Ada gerakan jamaah mandiri, menyadarkan warga ke masjid itu tidak gratis. Bisanya lampu mrnyala, air mengalir dan lain-lain, itu butuh dana," ujar Agus.

Takmir kemudian membuat rincian biaya selama setahun, dibagi 12, dibagi lagi 4, kemudian dibagi jumlah jamaah.

"Lalu dijelaskan pola tersebut kepada jamaah. Pengurus takmir ada 130 personil, utk merangkul seluruh warga," beber Agus.

Nara sumber lainnya Dr Yusron Masduki, Dosen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta juga menyampaikan gagasan yang menarik.

Menurut Yusron dana infak masjid yang terkumpul jangan sampai hanya diendapkan dan disimpan di bank. Jika dana infak masjid dikumpulkan dan diakumulasikan bisa mencapai jumlah milyaran.

"Sangat potensial untuk diberdayakan misalnya membentuk baitul mal, ritel-ritel dan produk ekonomis lainnya yang memberikan layanan kebutuhan jamaah. Hasil keuntungannya dikembalikan untuk menopang kebutuhan jamaah," ungkapnya.

Pelatihan yang berlangsung sehari penuh diikuti peserta dengan sangat antusias. Peserta berharap ke depannya banyak masjid di Kebumen yang pengelolaannya serupa dengan Masjid Jogokariyan, Yogyakarta.(*)
Powered by Blogger.