Mustahil Mengajak yang Makruf dengan Ikut Berbuat Munkar

Oleh: Kang Juki
Mustahil Mengajak yang Makruf dengan Ikut Berbuat Munkar
Kang Juki
www.inikebumen.net SEORANG perempuan yang profil dan kata-katanya tampak religius mengaku sudah berhubungan intim dengan seorang lelaki yang mengaku duda dan dikenal suka main perempuan, padahal ternyata punya istri.

Saat ditanya kok mau diajak begituan, dengan entengnya perempuan itu menjawab berharap lelaki yang mengencaninya sadar.

Meski harapan dan realita berbanding terbalik, karena lelaki itu terus rajin mengoleksi perempuan yang dikencani, perempuan itu masih bertahan dengan harapan setahun ini lelaki yang yang sudah terlanjur mengencaninya itu, mau berubah. Sekarang tahun sudah berganti, yang berubah dari lelaki itu hanya usianya, bukan kelakuannya.

Tak sedikit orang yang berperilaku seperti perempuan tersebut, mengharapkan sesuatu yang baik dengan tindakan yang salah. Ibarat memanggang jauh dari api. Tak kunjung masak.

Perintah dari Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 104 dan 110 sudah jelas, yang ditugaskan kepada kita adalah amar makruf dan nahi munkar. Memerintahkan pada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Realisasinya dengan berbuat baik semampu mungkin dan menghindari perbuatan munkar sejauh mungkin.

Para ulama sepakat yang dimaksud munkar adalah semua perbuatan yang dilarang Allah SWT, walaupun dalam pandangan manusia belum tentu dinilai buruk, merusak atau merugikan, misalnya makan daging babi atau makanan lain yang diharamkan.

Ada lagi perbuatan yang dilarang Allah SWT sekaligus juga dinilai buruk, merusak atau merugikan dalam pandangan manusia, yang disebut dengan  fahsya (keji), misalnya: zina (apalagi berganti-ganti pasangan), membunuh, merampok atau mencuri.

Karena perintahnya mencegah, menghindari sejauh mungkin, maka melakukan perbuatan munkar itu sendiri sudah pasti dosa. Sementara membuat orang sadar bukanlah kewajiban kita. Yang menjadi kewajiban kita adalah mengingatkan orang yang berbuat munkar, bukan malah ikut melakukannya.

Sadar tidaknya seseorang, tergantung hidayah yang merupakan rahasia Allah SWT. Manusia tidak tahu, seseorang akan mendapatkan hidayah atau tidak. Sehingga sungguh merupakan sebuah kesombongan bila ada seseorang yang mengklaim mampu menyadarkan orang lain, semula berperilaku buruk menjadi baik.

Kalaupun dengan kita berbuat munkar ikut menjadikan orang lain berubah, belum tentu karena sadar akan kesalahannya. Bisa saja pelaku sedang mencari cara agar tidak lagi diketahui orang lain saat berbuat munkar. Padahal dengan kita ikut berbuat munkar, telah mengotori hati kita sendiri akibat berbuat dosa.

Dalam sebuah hadis hasan yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

"Sesungguhnya apabila seorang mukmin berbuat dosa, maka akan ada titik hitam di dalam hatinya, jika ia bertaubat, meninggalkannya serta meminta ampun maka hatinya akan kembali putih, namun jika ia menambah (dosanya) maka akan bertambah (titik hitam), maka itulah penutup (hati) yang di sebutkan dalam firman Allah dalam kitab-Nya; "Sekali-kali tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka." (QS Al Muthafifin; 14).

Adakalanya dipakai lagi dalih lain untuk membenarkan ikut berbuat munkar, yang penting niat saya baik. Ini juga suatu kekeliruan. Tidak mungkin perbuatan munkar dilakukan dengan niat baik. Asbabul wurud (sebab turunnya) hadis tentang niat adalah hijrah yang dilakukan umat Islam di masa Rasulullah SAW.

Dari Umar bin Khaththab ra, Rasulullah SAW pernah bersabda,

"Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan." (HR Bukhari no. 1 dishahihkan ijmak ulama).

Merujuk hadis tersebut, hanya perbuatan yang sudah jelas kebaikannya yang nilainya tergantung niat pelakunya. Perbuatan munkar tidak mungkin diniati untuk kebaikan, sebab bertentangan dengan perintah Allah SWT untuk mencegah dan menjauhinya.

Pada akhirnya, apabila orang terdekat, orang yang dicintai masih suka berbuat munkar, kewajiban kita hanya mengingatkan. Tidak perlu mewajibkan diri kita untuk membuatnya sadar dan mengubah perilakunya.

Apabila diingatkan tidak diindahkan, langkah terbaik bagi kita adalah menjauhinya, bukan mencoba mengambil hatinya dengan ikut-ikutan berbuat munkar pula. Mustahil langkah seperti itu akan membuatnya menyadari lalu menghentikan perbuatan munkarnya.  Wallahu a'lam bish-shawab.(*)

Kang Juki 
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.