Beriman Tapi Hanya di Tepian

Merasa hidupnya diridhai Allah SWT karena hidup berkecukupan dan semua urusan keduniaannya berjalan lancar. Sebaliknya memandang orang yang secara materi masih kekurangan sebagai orang yang tak diridhai Allah SWT, tak perlu dijadikan panutan.
Beriman Tapi Hanya di Tepian
Kang Juki
INI Kebumen, SEBAGAI sebuah petunjuk bagi orang yang beriman, Al Quran tidak sekadar memuat perintah dan larangan, tapi juga diselingi metafora untuk lebih membantu memahami suatu masalah.

Salah satunya terdapat dalam surat Al Hajj ayat 11, yang artinya: ''Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi (tidak dengan penuh keyakinan), jika ia memperoleh kebajikan tetaplah ia dalam keadaan itu (keimanan) dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana berbaliklah ia kebelakang (menjadi kafir lagi). Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.''

Syekh Imam Al-Hafiz, Imaduddin Abul Fida Ismail ibnul Khatib Abu Hafs Umar ibnu Katsir dalam karya populernya Tafsir Ibnu Katsir, mengutip beberapa pandangan ulama terdahulu. Disebutkannya, bahwa Mujahid dan Qatadah serta lain-lainnya memaknai kalimat "dengan berada di tepi" yakni berada dalam keraguan. Yang lainnya mengatakan berada di tepi, seperti di tepi sebuah bukit.

Intinya orang tersebut masuk Islam dengan hati yang tidak sepenuhnya; jika menjumpai hal yang disukainya, ia tetap berada dalam Islam; dan jika tidak, maka ia kembali kafir.

Wajar bila dalam kehidupan sehari-hari tidak sedikit orang yang merasa telah melangkah di jalan yang benar saat kondisinya secara materi lebih dari cukup. Merasa hidupnya diridhai Allah SWT karena hidup berkecukupan dan semua urusan keduniaannya berjalan lancar. Sebaliknya memandang orang yang secara materi masih kekurangan sebagai orang yang tak diridhai Allah SWT, tak perlu dijadikan panutan.

Padahal dalam surat Al Baqarah ayat 155 Allah SWT mengingatkan, "Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."

Orang yang hidupnya kelihatannya masih dirundung kesusahan bukan berarti cara hidupnya belum benar. Mungkin Allah SWT tengah menguji keimanannya dengan kesusahan, apakah mudah goyah atau tidak.

Sebab kalau ridha Allah SWT terhadap kehidupan manusia diindikasikan dengan kekayaan, faktanya Qarun, orang terkaya di masa Nabi Musa as termasuk orang kafir yang tak diridhai Allah SWT. Sebaliknya Nabi Ayub as meski merupakan utusan Allah SWT juga pernah mengalami kesusahan dalam hidupnya.

Indikator seseorang sudah mantap keimanannya, apapun kondisinya tak akan mengubah keyakinan serta amal perbuatannya. Baik tengah merasakan kegembiraan maupun ditimpa kesusahan tetap berbuat baik, menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.

Allah SWT juga menyukai amalan yang dilakukan secara terus menerus, tidak tergantung pada keadaan. Dalam sebuah hadis yang berasal dari dari Aisyah ra, Rasulullah SAW bersabda, "Lakukanlah amalan yang mampu kalian lakukan, karena Allah tidak akan bosan hingga kalian sendirilah yang bosan. Dan Amalah yang paling disukai Allah adalah amalan yang terus-menerus dilakukan meskipun sedikit." (HR Muslim no. 1958 dishahihkan ijmak ulama)

Agar tidak menjadi orang beriman yang hanya di tepian, bersegeralah kita melakukan amalan baik saat terasa berat ataupun ringan, berusaha mencegah kemungkaran baik ketika berkuasa maupuk tidak. Juga biasakan bersedekah, baik saat keadaan lapang maupun sempit. Wallahu a'lam bish-shawab(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.