pendaftaran mahasiswa baru UPB

Mendadak Religius

Al Quran surat Yunus ayat 12, "Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri.
  Mendadak Religius
Kang Juki
INI Kebumen, TIPE manusia bermacam-macam. Ada yang beriman tapi hanya di tepian. Ingat Allah SWT saat mendapatkan keuntungan duniawi, tapi saat diuji sedikit saja sudah berpaling.

Ada pula yang sebaliknya. Ketika mendapat limpahan nikmat dari Allah SWT lupa diri. Kufur nikmat. Merasa segala sesuatu yang diraihnya sebagai hasil jerih payahnya semata. Sehingga apa saja yang dilakukannya dinilai baik semua.

Saat mendapat musibah, kondisinya sedang terpuruk, merasa didzalimi orang lain atau punya kepentingan jangka pendek baru mendadak religius. Kalau orang Jawa akan mengeluarkan kalimat sakti untuk menenangkan diri, "Gusti Allah ora sare," (Allah SWT tidak tidur). Serupa dengan kalimat ini "Saya percaya Allah Maha Adil akan memberi balasan yang setimpal."

Orang seperti itu beranggapan dirinya selalu berada dalam posisi benar, orang lain salah. Sehingga Allah pasti akan berpihak kepadanya. Lupa dengan kemungkinan yang sebaliknya. Barangkali justru karena Allah SWT tidak tidur sekaligus Maha Adil maka dirinya tengah mendapat balasan yang setimpal atas perbuatan di masa sebelumnya.

Saat merasa tengah berjaya, orang seperti itu kadang tak mau menghiraukan peringatan orang lain. Diingatkan tentang larangan-larangan Allah SWT yang dengan gampang dilanggarnya, cuma dijawab enteng EGP  (emang gue pikirin). Atau berdalih hidup untuk dinikmati, asal tidak merugikan orang lain bukan dosa.

Padahal para ulama saat menafsirkan surat Al Ankabut ayat 45 yang di dalamnya ada kata _fahsya_ (keji) dan mungkar bersepakat tentang makna kedua kata itu. Perbuatan keji adalah perbuatan yang selain dilarang dalam ajaran Islam juga dinilai buruk oleh akal dan nurani manusia. Yang sering dicontohkan sebagai perbuatan keji adalah zina.

Sedangkan perbuatan mungkar adalah segala macam bentuk dosa dan kesalahan, melanggar larangan Allah SWT. Sehingga meskipun tidak merugikan orang lain kalau melakukan sesuatu yang dilanggar tetap saja berdosa, telah melakukan perbuatan mungkar.

Fenomena orang mendadak religius saat susah diingatkan Allah SWT dalam Al Quran surat Yunus ayat 12,  

"Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri. Tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu darinya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan."

Ungkapan dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri menunjukkan ketika sedang melakukan aktivitas apa saja dalam keseharian selalu berdoa. Karena apa saja aktivitas manusia bisa digambarkan dengan tiga posisi tersebut, berbaring, duduk dan berdiri.

Sehingga saat merasa posisinya belum nyaman dari bahaya, seperti menghadapi sidang pengadilan, diperiksa tim audit atau hendak mengikuti pemilihan, sebentar-sebentar berdoa menyebut nama Allah SWT.

Tapi giliran sudah merasa nyaman dan bahaya sudah lewat lupa dengan pertolongan Allah SWT. Setelah divonis bebas, hasil auditnya memuaskan atau sudah ditetapkan sebagai pemenang dalam pemilihan, seolah-olah itu merupakan hasil kerja kerasnya sendiri. Sehingga selanjutnya juga bebas berbuat semaunya.

Agar tidak hanya ingat Allah SWT saat mengalami kesusahan dan lupa diri saat sudah berhasil ada baiknya mengamalkan doa yang diwasiatkan Rasulullah SAW kepada Muadz bin Jabal ra.  Sabda Rasulullah SAW,

"Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan, "ALLAAHUMMA A'INNII 'ALAA DZIKRIKA WA SYUKRIKA WA HUSNI 'IBAADATIK" (Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu dengan baik.) (HR Abu Dawud no. 1301 dishahihkan Muhammad Nashiruddin Al Albani, dengan lafal berbeda diriwayatkan juga oleh Nasai no. 1286)

Wallahu a'lam bish-shawab.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman Kebumen
Powered by Blogger.