Waspada Corona, Belajar Dari Kisah Nabi Nuh dan Kaumnya

Kondisi sekarang memang tidak terkait langsung dengan masalah keimanan seseorang, melainkan kepercayaan terhadap ilmu kedokteran dan kesehatan
Waspada Corona, Belajar Dari Kisah Nabi Nuh dan Kaumnya
Kang Juki
INI Kebumen, DI MASA pandemi Corona, lengkapnya Corona Virus Disease (Covid-19), kita perlu belajar dari kisah Nabi Nuh dan kaumnya. Kok bisa? Ada kesamaan tantangan yang dihadapi, yakni sikap keras kepala sebagian masyarakat saat diingatkan akan bahaya yang bakal terjadi.

Bagaimana awal kisah Nabi Nuh dalam mengajak kaumnya untuk menyembah Allah disebutkan Al Quran dalam surat Hud ayat 25-27, yang artinya:

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, (dia berkata), "Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagi kalian, agar kalian tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kalian akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan.” Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya, "Kami tidak melihat kamu, melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu, melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kalian memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kalian adalah orang-orang yang dusta.”

Dari penolakan terhadap ajakan Nabi Nuh, sudah tampak bagaimana keras kepala dan sombongnya kaumnya, sehingga merendahkan orang-orang yang mau mengikuti seruan Nabi Nuh. Terlebih setelah Nabi Nuh atas perintah Allah SWT diperintahkan membuat kapal sebagai persiapan menghadapi banjir besar yang bakal diturunkan Allah. Ejekan kaumnya terhadap Nabi Nuh semakin menjadi. Mereka menganggap Nabi Nuh telah gila, membuat kapal di daerah yang jauh dari lautan.

Bagi Nabi Nuh, ejekan kaumnya sangat menyakitkan, sehingga kemudian Nabi Nuh berdoa kepada Allah SWT sebagaimana dikisahkan dalam surat Al Qamar ayat 9-10, yang artinya:

Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh, maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan, "Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman.” Maka dia (Nuh) mengadu kepada Tuhannya, "Bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan. Oleh sebab itu, tolonglah (aku).”

Meski hujan lebat sudah turun, banjir mulai datang, kaumnya yang beriman sudah menaiki kapal, masih banyak kaumnya yang tak percaya dengan seruan Nabi Nuh, termasuk anak dan istrinya.

Kondisi sekarang memang tidak terkait langsung dengan masalah keimanan seseorang, melainkan kepercayaan terhadap ilmu kedokteran dan kesehatan. Informasi tentang Covid-19 sudah beredar luas, data mereka yang terkena juga selalu diperbaharui setiap saat yang masih menunjukkan gejala peningkatan jumlah penderita. Tapi masih banyak yang keras kepala mengabaikan himbauan pencegahan dan standar penanganannya.

Upaya pencegahan Corona bisa jadi tak masuk akal bagi yang tak memahami mekanisme penyebarannya. Sama tidak masuk akalnya bagi kaumnya saat melihat Nabi Nuh membuat kapal.

Yang membuat kepala kian mengeras mengabaikan pencegahan penularan Corona saat mulai bersinggungan dengan tradisi keagamaan dan bahkan peribadatan. Walaupun sudah dijelaskan adanya hadis yang meringankan pelaksanaan ibadah saat ada halangan.

Hadis yang mengisahkan terjadinya tha'un (sejenis penyakit sampar, pes, lepra) di masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat, serta bagaimana menghadapinya juga ada untuk dijadikan rujukan.

Aisyah ra pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang tha'un. Nabi bersabda, "Itu adalah siksa yang Allah kirimkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Dan tidaklah seorang hamba di suatu negeri yang terkena penyakit tha'un dan ia tinggal di sana, ia tidak mengungsi dari negeri itu dengan sabar dan mengharap pahala disisi Allah, ia sadar bahwa tak akan menimpanya selain yang telah digariskan-Nya baginya, selain baginya pahala seperti pahala syahid." (HR Bukhari no. 6129 dishahihkan ijmak ulama).

Dari sini mestinya bisa direnungi lagi, alasan paling mendasar bagi yang masih abai terhadap aktivitas pencegahan penyebaran Corona. Takut kelaparan karena tidak bekerja, tak bisa bersenang-senang di luar rumah, atau tak bisa kumpul-kumpul dengan kawan.

Semua itu mesti dicari solusinya dengan cara lain. Tapi mencari legitimasi ajaran Islam untuk mengabaikan upaya pencegahan penyebaran Corona, sepertinya terlalu memaksakan pendapat. Faktanya perintah dalam menjalankan ibadah bagi umat Islam selalu disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

Jadi meski tampak beraktivitas sebagai orang beriman, jika abai dengan standar pencegahan penyebaran Corona, bukan tidak mungkin sebenarnya tengah mempertontonkan warisan karakter kaumnya Nabi Nuh, keras kepala dan menolak diajak menghindari bahaya. Sikap keras kepala dan kesombongan itu yang bisa membuatnya meregang nyawa.

Padahal sudah dari awal diingatkan untuk bisa menghindarinya. Mari direnungkan bersama, agar pencegahan penyebaran Corona bisa lebih intensif dilakukan dengan kompak, sehingga pandemik Corona segera berlalu dan kehidupan kembali berjalan normal. Semoga.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.