Mengantisipasi Pudarnya Romantisme Spiritual Ramadhan

Sejak menjelang datangnya Ramadhan, suasana penyambutannya terasa hambar. Tak terlihat gegap-gempita kemeriahan, sebab banyak aktivitas yang hilang.
Mengantisipasi Pudarnya Romantisme Spiritual Ramadhan
Agus Khanif
INI Kebumen, SEMARAK bulan Ramadhan tahun ini tidak seperti biasanya. Lantaran pandemik Covid-19 telah mengubah semuanya. Sejak menjelang datangnya Ramadhan, suasana penyambutannya terasa hambar. Tak terlihat gegap-gempita kemeriahan, sebab banyak aktivitas yang hilang.

Semua aktivitas yang masih dilakukan harus mematuhi protokol covid-19 yang ditetapkan oleh pemerintah. Untuk memutus mata rantai penyebaran virus. Beberapa tradisi semarak menyambut datangnya bulan Ramadhan tidak terlihat lagi. Kalaupun masih ada yang melakukan hanya beberapa gelintir orang saja.
   
Nyadran, misalnya. Yakni kegiatan gotong-royong membersihkan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan yang biasanya diisi dengan tahlil. Bukan hanya dilakukan oleh warga kampung. Mereka yang di rantau juga banyak yang menyempatkan mudik untuk sekadar nyadran.

Kemudian Padusan, sebuah tradisi menyucikan diri dengan cara mandi besar untuk menghilangkan hadas kecil dan besar. Dilakukannya secara massal dan berbau wisata, laki-laki dan perempuan, tua dan muda yang bukan mahram bercampur-aduk jadi satu di kolam renang, pantai, atau di tempat pemandian umum lainnya.

Tak hanya di Jawa, tradisi ini juga ada di Sumatera Barat dengan nama Balimau, yang berarti mandi disertai keramas. Tujuannya sama, yakni agar saat menjalani ibadah di bulan suci Ramadhan benar-benar dalam kondisi suci.

Tidak ada dalil syar'i tentang nyadran maupun padusan dari Al-Qur'an, hadis Nabi Muhammad Saw, serta contoh para sahabat. Namun sebagian orang meyakini bahwa nyadran dan padusan merupakan sebuah kewajiban agama yang harus dilakukan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.

Begitu memasuki bulan Ramadhan, suasana hambar lebih terasa lagi. Covid-19 membuat masjid sebagai pusat ibadah massal ditutup dan dipidahkan ke rumah. Tidak ada lagi romantisme spiritual dalam balutan ibadah massal. Tidak ada lagi kebersamaan di masjid dalam acara buka bersama, shalat tarawih berjamaah, tadarus al-Qur’an, hingga iktikaf.
   
Pesantren kilat, tarawih keliling (tarling) yang biasanya dilakukan para pajabat dan tablig akbar dalam rangka peringatan Nuzulul Qur’an termasuk aktivitas yang di-off dulu.

Ngabuburit, aktivitas jalan-jalan dan berkumpul di suatu tempat untuk menunggu datangnya waktu berbuka puasa, juga dihentikan.  Begitu juga  sahur on the road, yang biasanya dilakukan oleh beberapa komunitas.
   
Ibadah puasa Ramadhan di musim pandemi ini benar-benar dijalankan dalam sunyi di kediaman masing-masing. Mulai santap sahur, shalat, hingga berbuka puasa kini hanya dilakukan dengan anggota keluarga yang ada di rumah.

Bagi orang-orang yang setia menunggu datangnya Ramadhan, kondisi ini tentu sangat terasa kehilangan romantisme spiritualnya. Ada rongga batin yang kosong, yang tidak bisa tergantikan oleh logika nalar maupun sains.

Apalagi jika sampai pada klimaknya nanti, yakni saat lebaran tiba, masih ada larangan untuk  mengadakan takbir keliling dan sholat idul fitri sebagaimana biasanya.

Tidak boleh berkunjung ke sanak famili untuk bersilaturhami dan halal bihalal, saling maaf-memaafan, serta cipika-cipiki dan berjabat tangan. Bila ini sampai terjadi (semoga tidak), maka sempurnalah hilangnya romatisme spiritual ramadhan tahun ini.

Untuk mengisi kekosongan ruang batin pada Ramadhan kali ini, maka diperlukan sublimasi (perubahan ke arah satu tingkat lebih tinggi) yang bersifat metafisik. Ramadhan tidak cukup hanya dirayakan dengan gegap gempita sebagai ritual tahunan semata.

Bahwa persoalan mudik, nyadran, padusan, ngabubrit, bukber, tarawih dan tadarus di masjid adalah hal-hal sensasional yang ada di permukaan saja.

Padahal laku puasa itu mestinya  menyelami samudra esensi. Puasa adalah ibadah yang sunyi. Sendiri. Sangat privat. Hanya kita dan Tuhan Allah saja yang tahu sebenarnya, bahwa kita sedang nglakoni tirakat puasa. Sangat beda dengan ibadah lainnya, seperti shalat, zakat, haji, dan sebagainya. Orang lain bisa melihat atau merasakan.

Puasa adalah ngempet dan ngerem terhadap dorongan-dorongan nafsu kebendaan. Melakukan lock down mandiri secara total dan radikal, supaya hasrat akan “harta, tahta dan wanita” yang melelahkan tidak menguasai dirinya.

Bila yang esensial ini bisa dijalankan dengan baik, mudah-mudahan takwa kita meningkat. Namun bila masih terjebak pada hal-hal yang seremonial di permukaan saja, maka kemungkinan baru sekadar merasakan haus dan dahaga saja. Wallahu a'lam bish-shawab.(*)

Agus Khanif 
Penulis adalah anggota Dewan Presidium Formasi, Kebumen.
Powered by Blogger.