Silaturahmi, Tak Sekadar Bertegur Sapa (Bagian II)

Tak seharusnya reputasi keluarga besar dipertaruhkan untuk membela salah satu anggota keluarganya yang berbuat salah.
Silaturahmi, Tak Sekadar Bertegur Sapa (Bagian II)
Kang Juki
INI Kebumen - BERKEBALIKAN dengan orang-orang beriman adalah kegiatan orang-orang munafik sebagaimana digambarkan dalam firman Allah SWT,

"Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan, sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama; mereka menyuruh membuat yang mungkar dan melarang berbuat yang makruf, dan mereka meng­genggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik." (QS At-Taubah:67).

Kalau dalam silaturahmi keluarga besar tak diiringi dengan spirit amar makruf nahi mungkar, bisa membuat terjadi sebaliknya. Kesannya malah melarang yang makruf dan menyuruh atau setidaknya membiarkan perbuatan mungkar dengan dalih menjaga kerukunan keluarga besar. Tanpa disadari perkumpulan keluarga besar dibawa ke arah perilaku orang-orang munafik.

Sepatutnya jika ada anggota keluarga besar yang tersandung masalah dan terlanjur diketahui publik, silaturahmi keluarga besar menjadi sarana untuk memperbaiki kesalahannya.

Keluarga besar memberikan dukungan moral apabila yang bersangkutan mengakui kesalahan dan bertekad memperbaikinya. Bukan melakukan pembenaran dan memberikan pembelaan membabi buta.

Di masa-masa awal gencarnya Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), kadang ada pihak keluarga yang masih membela tersangka OTT. Namun pembelaan itu akhirnya sirna seiring terungkapnya berbagai bukti dalam persidangan.

Tak seharusnya reputasi keluarga besar dipertaruhkan untuk membela salah satu anggota keluarganya yang berbuat salah. Justru keluarga besar jika rajin membuat acara silaturahmi yang sesuai ajaran Islam, mestinya tahu lebih dahulu perilaku menyimpang dari anggota keluarga besarnya.

Allah SWT berfirman, "Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka." (Al Mujaadilah:22)

Jika ayat tersebut dipahami dengan baik, setiap orang yang menginginkan keluarga besarnya menjadi kaum beriman, akan menghindari sejauh mungkin perbuatan mungkar. Karena beresiko akan dijauhi keluarga besarnya.

Sehingga silaturahmi keluarga besar bisa menjadi sarana pencegahan anggotanya dari perbuatan mungkar. Jika hal ini dilakukan, akan mengurangi beban negara, pemerintah pusat dan daerah dalam menertibkan warganya.

Maraknya KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), karena perkumpulan keluarga besar lebih mengedepankan kerukunan, bukan amar makruf nahi mungkar.

Akibatnya ketika salah satu saja ada yang berbuat mungkar, karena tak ada yang mengingatkan atau mencegah, akhirnya jadi menjalar ke yang lainnya dengan dukungan semangat kerukunan dan kekeluargaan.

Berita aktual tentang kasus korupsi, seorang mantan pejabat Mahkamah Agung ditangkap bersama menantunya.

Entah siapa yang memulai bertindak korup, yang jelas hubungan kekeluargaan yang tak membangun semangat amar makruf nahi mungkar, telah menjerumuskan mertua dan menantu bekerja sama dalam kemungkaran.(Bersambung)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.