pendaftaran mahasiswa baru UPB

Terabaikannya Doa yang Sudah Dikabulkan

Ada sebuah anekdot tentang  doa seseorang yang sebenarnya sudah dikabulkan, tapi yang berdoa justru tak mau menerimanya.
Terabaikannya Doa yang Sudah Dikabulkan
Kang Juki
INI Kebumen - SEMUA orang yang berdoa tentu akan sangat berharap permintaan yang disampaikannya dalam doa akan terkabulkan. Allah SWT juga menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-Nya.

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Aku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (QS. Al Baqarah: 186)

“Dan Tuhan kalian berfirman, ‘Berdo’alah kalian kepada-Ku niscaya akan Aku kabulkan bagi kalian.’ Sesungguhnya, orang-orang yang sombong dari beribadah kepada-Ku, akan masuk neraka dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

Hanya saja orang sering tidak mengira bahwa sebenarnya tanpa disadari, doanya sudah dikabulkan. Seorang yang tengah berada dalam kesulitan keuangan berdoa agar mendapatkan rezeki. Saat kemudian ada orang datang membayar hutangnya beberapa bulan silam, tak menyadari itu wujud terkabulkannya doa yang dipanjatkan.

Menganggap itu bukan rezeki, tapi memang sesuatu yang sudah menjadi haknya. Lupa, sesuatu yang menjadi hak, tak selalu bisa didapatkan. Sehingga diperolehnya apa yang menjadi haknya itu juga merupakan rezeki.

Karena pemahaman tentang rezeki yang tidak benar, membuatnya tak menyadari doanya sudah dikabulkan. Walau pengaruhnya sudah nampak nyata, kesulitan keuangannya teratasi.

Terhadap bentuk permintaan yang kongkret, orang bisa tidak memahami telah terkabulnya doa yang dipanjatkan, terlebih bila permintaannya abstrak. Meminta diberikan yang terbaik, meminta diungkapkan kebenaran dari permasalahan yang tengah dihadapi.

Permintaan tersebut terlalu abstrak, apakah sudah menyamakan persepsi tentang kebaikan dan kebenaran menurut Allah SWT?

Kalau yang dimaksud kebaikan dan kebenaran hanya menurut dirinya sendiri, meski doa itu sudah dikabulkan, yang berdoa terus saja akan merasa doanya belum dikabulkan.

Dengan keyakinan semu menganggap suatu saat yang baik dan yang benar akan terbukti. Belum bisa menerima kenyataan hal itu sudah terjadi, hanya karena kebaikan dan kebenaran ternyata tak sesuai dengan keinginannya.

Ada sebuah anekdot tentang  doa seseorang yang sebenarnya sudah dikabulkan, tapi yang berdoa justru tak mau menerimanya.

Sebuah desa terlanda banjir, penduduknya bergegas mengungsi. Seorang nenek tertinggal di rumah bertingkat belum bisa ikut mengungsi. Nenek lalu duduk di teras depan rumah sambil berdoa memohon pertolongan Tuhan.

Saat air di jalan sudah setinggi lutut, lewatlah tetangganya tukang gerobag. "Ayo Nek ikut saya mengungsi," ajaknya.

"Terima kasih, silahkan mengungsi dulu. Tuhan pasti akan menolong saya," jawab nenek yakin.

Air di jalan naik sampai satu meter. Nenek naik dan duduk di meja, mulutnya terus komat-kamit berdoa kepada Tuhan.

Lewatlah seorang pengail dengan rakit sederhana mengajak nenek ikut mengungsi. Nenek kembali menolak ajakan tersebut dan yakin Tuhan akan menolongnya.

Air di jalan semakin tinggi mencapai dua meter lebih. Nenek sudah naik ke teras lantai dua. Mulutnya tiada henti mengucap doa.

Seorang dengan sampan sederhana lewat depan rumah dan mengajak nenek mengungsi. Lagi-lagi nenek menolaknya dan yakin Tuhan akan menolongnya.

Banjir terus membesar. Rumah bertingkat dua, tempat nenek menunggu pertolongan akhirnya ikut terbenam. Nenek pun meninggal, tenggelam di dalamnya.

Di akhirat, nenek protes kepada Tuhan, "Saya sudah berdoa meminta pertolongan kepada-Mu, tapi Tuhan tidak mau menolong."

"Aku sudah mengirim pertolongan dengan gerobag, rakit dan terakhir sampan. Tapi kamu tidak mau ditolong," jawab Tuhan.

"Ya Tuhan, masa saya harus naik gerobag, rakit atau sampan? Seharusnya kan perahu karet seperti yang digunakan BPBD," protes nenek selanjutnya.

Para malaikat yang mendengar tersenyum dengan jawaban nenek. "Mungkin begitu ya sifat manusia, mau diberi saja masih milih-milih," kata malaikat kepada sesamanya.

Dalam kehidupan nyata anekdot serupa nenek tersebut banyak ditemui. Usai vonis hakim di pengadilan, tak sedikit terdakwa yang berkelit dengan yakinnya, "Allah Maha Adil, suatu saat kebenaran akan terungkap."

Dia lupa, justru Allah sedang menunjukkan keadilan sedang ditegakkan dan kebenaran sudah diungkap saat vonis hakim dijatuhkan. Sayangnya kebenaran bukan berada di pihaknya dan keadilan ternyata tak menguntungkan dirinya.

Anda sedang berdoa memohon keadilan dan kebenaran? Renungkanlah keadaan sekeliling, bukan tidak mungkin doa anda sudah dikabulkan. Sayangnya anda belum bisa menerimanya, karena justru anda yang sering berbuat tidak adil dan mengabaikan kebenaran. Wallahu a'lam bish-shawab.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.