pendaftaran mahasiswa baru UPB

Kendalikan Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik dengan Minum Air Putih Sesuai Kebutuhan

Oleh: Nancy Susanita dan Nurchayati 
Kendalikan Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik dengan Minum Air Putih Sesuai Kebutuhan
Nurchayati (Dokumen pribadi)
INI Kebumen - PENNY  Vlahos dkk dalam jurnal Global Public Health volume 14, 2019 menulis artikel menarik “Kidney Progression Project (KiPP): Protocol for a Longitudinal Cohort Study of Progression in Chronic Kidney Disease of Unknown Etiology in Sri Lanka.”

Artikel tersebut menyebutkan bahwa Penyakit Ginjal Kronik (PGK) adalah penyakit progresif dan irreversible yang mengakibatkan gagal ginjal dan kematian tanpa dialisis atau transplantasi ginjal.

PGK merupakan salah satu penyebab kematian yang tumbuh paling cepat di seluruh dunia. Tidak itu saja, PGK diperkirakan akan menjadi salah satu dari lima penyebab utama hilangnya tahun kehidupan pada tahun 2040, jika laju pertumbuhan saat ini terus berlanjut.

Riset Kesehatan Dasar 2018 mendapatkan data prevalensi PGK di Indonesia berkisar 3,8%. Kurangnya asupan cairan tubuh, merokok, diabetes mellitus (DM), hipertensi, glomerulonefritis, serta konsumsi obat secara sembarangan merupakan beberapa faktor risiko terjadinya PGK.
Nancy Susanita (Dokumen pribadi)
Penurunan fungsi ginjal merupakan proses normal setiap bertambahnya usia manusia. Normalnya, mulai usia 50 tahun ginjal akan mengalami penurunan fungsi cukup signifikan akibat berkurangnya jumlah nefron yaitu sekitar 20%.

Jika kejadian penyakit ginjal kronik terjadi pada usia yang lebih dini maka dimungkinkan karena gaya hidup yang tidak sehat terutama yang berkaitan dengan kebiasaan konsumsi zat-zat tertentu yang bersifat nefrotoksik (meracuni ginjal).
     
Pada kasus PGK, ginjal menjadi rusak selamanya atau tidak dapat membersihkan darah sebaik ginjal yang sehat. Ketika ginjal tidak bekerja maksimal, sisa metabolisme dan kelebihan air meningkat dalam tubuh dan menimbulkan banyak masalah, termasuk penyakit jantung dan tekanan darah yang meningkat.

Karena salah satu penyebab PGK adalah kurangnya asupan cairan dari kebutuhan tubuh, maka minum air yang cukup akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu ginjal yang dapat menambah risiko terjadi PGK.

Penelitian terhadap perilaku minum dihubungkan dengan fungsi ginjal, hasilnya menunjukkan kebiasaan minum air putih <1000 ml/hari meningkatkan risiko PGK 7,69 kali dibandingkan orang yang minum air putih = 2000 ml/hari. Demikian pula, penyakit batu ginjal meningkatkan risiko PGK sebesar 3,70 kali.

Keadaan dehidrasi akibat kurang minum akan memperberat kerja ginjal apalagi jika ditambah dengan konsumsi minuman berkafein atau obat yang bersifat diuretik (mempercepat berkemih) seperti obat hipertensi.

Air merupakan penyusun jaringan terbesar dan memiliki banyak fungsi fisiologis dalam tubuh manusia. Dalam proses metabolisme, air mempercepat penyerapan dan transportasi nutrisi (memainkan peran dalam metabolisme nutrisi dan reaksi kimia fisiologis), serta membantu dalam pembuangan hasil metabolisme. Hal ini mempengaruhi kebutuhan air seseorang.
Kendalikan Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik dengan Minum Air Putih Sesuai Kebutuhan
Kendalikan Faktor Risiko Penyakit Ginjal Kronik dengan Minum Air Putih Sesuai Kebutuhan
Kebutuhan air bervariasi berdasarkan berbagai faktor seperti jenis kelamin, usia, aktivitas fisik, faktor makanan, suhu lingkungan, dan kapasitas konsentrasi ginjal.

Ketentuan asupan cairan menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) untuk menghindari dehidrasi yaitu total asupan air harian untuk pria dan wanita yang menetap haruslah masing-masing 2.900 mL dan 2.200 mL.

Dalam Asia Pacific Journal of Clinic Nutrition vol. 27 Tahun 2018, Yang Yuexin menulis artikel “New Chinese Dietary Guidelines: Healthy Eating Patterns and Food-Based Dietary Recommendations.”

Dijelaskan dalam artikel tersebut, bahwa sebuah survei di China yang melibatkan 1.483 orang dewasa berusia 18–60 tahun menunjukkan bahwa rata-rata asupan air minum harian untuk pria (1679 mL) dan untuk wanita (1370 mL). Asupan air total rata-rata harian untuk semua peserta adalah 3.035 mL.       

Berdasarkan data ini, dengan mempertimbangkan konsumsi energi, aktivitas fisik, keringat, dan beban zat terlarut, total asupan air harian yang direkomendasikan untuk pria adalah 3000 mL dan untuk wanita adalah 2.700 mL.

Dengan mengetahui seberapa banyak air putih yang harus dikonsumsi, maka tanpa harus merasa haus minumlah air putih sesuai kebutuhan. Salah satu cara untuk mengingat pola minum air putih adalah membuat jadwal minum air putih. Berikut ini poster waktu untuk minum air putih:(*)

Nancy Susanita SKep Ns
Mahasiswa Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Dr Nurchayati SKep Ns MKep
Dosen Magister Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Powered by Blogger.