Relakan Tanah untuk Bendungan Sempor, Warga Masih Bisa Bertani di Lokasi Quarry

Manfaat itu yang dirasakan Jamirah  dan Salmini. 

Relakan Tanah untuk Bendungan Sempor, Warga Masih Bisa Bertani di Lokasi Quarry
Relakan Tanah untuk Bendungan Sempor, Warga Masih Bisa Bertani di Lokasi Quarry
INI KEBUMEN - Fungsi bendungan tidak hanya memenuhi kebutuhan air baku dan irigasi.

Di Bendungan Sempor, Kabupaten Kebumen, warga memanfaatkan lahan yang telah dibeli negara untuk berdagang dan membuka jasa wisata.  

Sementara, di bekas galian andesit Waduk Sempor (quarry site), dimanfaatkan warga untuk menanam padi, kacang, serta pisang.

Manfaat itu yang dirasakan Jamirah  dan Salmini. Keduanya adalah saksi hidup, saat awal Bendungan Sempor berdiri di daerah aliran sungai Cicingguling, Desa Sempor, Kecamatan Sempor-Kabupaten Kebumen.

Jamirah (70) berkisah saat Bendungan selesai dibangun pada 1978, dia yang saat itu tinggal di Desa Sempor, telah memiliki seorang anak. Setelah tanah keluarganya sebagai calon areal waduk  diganti rugi pemerintah, ia dan keluarganya memutuskan pindah ke Desa Kaliputih.

Melihat potensi pengunjung di Bendungan Sempor, Jamirah pun memunyai ide berjualan. Berbekal uang Rp2.000 kala itu, ia kemudian meminta suaminya belanja beberapa penganan dan rokok, untuk dijual kembali.

Usahanya pun membuahkan hasil. Sampai akhirnya, ia memberanikan diri “nembung” ingin memanfaatkan sepetak lahan milik BBWS-Serayu Opak, untuk mendirikan warung.

“Dulu kehidupan ya sengsara sekali. Setelah ada bendunganya mendingan, pas bisa sadeyan (jualan) bisa makan. Ini tanahnya PU (BBWS-SO). Boleh jualan asal rapi. Saya tidak bayar iuran apapun ke PU. Tapi iuran ada ke pemda setahun Rp280 ribu,” paparnya, saat ditemui Jumat, 18 Maret 2022.

Menggeluti usaha itu, paling tidak Jamirah bisa memperoleh Rp3 juta dalam sebulan. Dengan uang itu, ia bisa menghidupi cucu dan anaknya yang tinggal seatap.

Namun, Jamirah sadar bahwa tanah yang ditempatinya saat ini bukan hak pribadinya.

“Ya nanti kalau dibutuhkan (oleh BBWS-SO) ya mangga saja,” tuturnya.

Hal serupa dikatakan Salmini (53). Ia berkisah, saat Bendungan dibangun usianya baru sembilan tahun. Masih lekat diingatannya, dulu keluarganya mempunyai beberapa petak lahan, di galian batu andesit, yang digunakan sebagai material pembangunan waduk.

Saat ditemui, ia tengah sibuk merontokkan padi yang baru saja dipanen. Sementara, suaminya tengah memetik tanaman liar untuk pakan ternak, di quarry site yang terletak sekitar satu kilometer dari waduk.

“Saya dulu rumahnya nenek dan orang tua di sini, kemudian pindah dari sini karena untuk bangun waduk. Kemudian uang ganti ruginya untuk beli tanah dan rumah di tempat lain. Nah setelah di sini (quarry site) tidak dimanfaatin, boleh numpang menanam di sini,” ungkap Salmini.

Ia mengaku, memanfaatkan lahan bekas galian andesit untuk menanam padi, kacang, dan pisang. Pada lahan tadah hujan itu, Salmini bisa mendapat hasil hingga dua kwintal padi.

Tidak hanya Salmini, di lahan bekas galian tersebut setidaknya ada sembilan orang yang bercocok tanam.

“Di sini kan ada airnya yang mengalir. Nah saya kemudian beli tanah sawah, ditimbun ke sini, lalu ditanami padi. Tapi saya tahu karena ini bukan tanah saya, ya hanya numpang menanam, tidak dimiliki. Tapi di sini saya tidak membayar apapun, tidak ada pungli,” urainya.

Pengelola Pokdarwis Mukti Marandesa Teguh Priyanto mengakui hal serupa. Meski lahir beda zaman dengan Jamirah dan Salmini, ia sebagai pemuda setempat mendapatkan manfaat serupa dari waduk.

“Dulunya kami pemuda banyak merantau dan nongkrong-nongkrong saja. Tapi kini kami bisa buka jasa wisata perahu, parkir dan layanan makan di atas perahu. Kalau kemarau, warga juga bisa ambil air dari waduk,” sebutnya.

Konservasi Terus Berjalan

Petugas Pemantauan Bendungan Sempor UPB BBWS Serayu Opak Eko Dian Ariyanto menjelaskan, waduk tersebut memunyai beberapa fungsi dasar. Di antaranya penyedia air baku, irigasi pertanian, pembangkit listrik tenaga air, dan pengendali banjir.

Di samping itu, kemanfaatan Bendungan juga diprioritaskan mendorong ekonomi warga. Ia menyebut, warga di sekitar waduk, bisa memanfaatkan potensi yang ada.

Penggunaan areal di sekitar waduk oleh warga, tetap tunduk pada beberapa aturan. Di antaranya kesadaran penuh dari warga, jika tanah yang ditempati adalah milik negara, dan sewaktu-waktu bisa digunakan untuk keperluan bendungan.

Eko menyebut, sudah ada kerja sama operasional (KSO) dengan warga terkait pemanfaatan lahan sekitar waduk (green belt/ sabuk hijau).
Selain itu, masyarakat diberdayakan dalam forum atau komunitas, agar pemanfaatan areal waduk teratur. Ini dilakukan agar tidak ada alih fungsi lahan yang serampangan.

“Kita support bibit tanaman, pupuk, yang penting masyarakat bisa menikmati hasilnya berupa buah, biji maupun bunga, tanpa tebang pohon dan menjaga konservasi agar tak ada erosi di green belt. Di quarry site di hilir bendungan, suatu saat ada rehabilitasi atau diperlukan untuk menampung sedimen, maka masyarakat diharapkan minggir terlebih dahulu,” bebernya.

Dijelaskan, areal quarry dulunya dipergunakan sebagai lahan galian untuk mengambil batuan andesit. Kini, banyak warga yang memanfaatkannya untuk bercocok tanam.

Terkait fungsi waduk, Eko menyebut saat ini Bendungan Sempor menyuplai kebutuhan air baku untuk tiga wilayah. Meliputi, Kabupaten Kebumen, Kecamatan Gombong dan Kecamatan Sempor. Dalam satu hari, keperluan untuk itu adalah 0,12 meter kubik per detik.

Sementara untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), bisa menghasilkan energi sekitar 1,0 Mega Watt. Secara teori, energi tersebut bisa memasok daya 1.000 rumah warga, bila diasumsikan  tiap rumah menggunakan daya 900 – 1.300 VA.

Secara teknis, Bendungan Sempor yang berada di aliran Sungai Cicingguling, Desa Sempor itu bertipe timbunan batu atau rockfill.

Adapun volume bendungan mencapai 1.579.000 meter kubik, dengan tinggi puncak bendungan 54 meter dari dasar pondasi terdalam, dan 49 meter dari sungai terdalam.

Sementara, dimensi puncak bendungan adalah 220 meter kali lebar 10 meter. Adapun, luas daerah tangkapan air (DTA) waduk mencapai 43,38 km persegi, dengan luas daerah aliran sungai (DAS) waduk kurang lebih 43 kilometer persegi.

“Untuk irigasi pertanian, bisa mengairi lahan seluas 6.478 hektare, untuk memenuhi dua masa tanam, pada Oktober-Maret kemudian Maret-Juni. Selanjutnya, akan dilakukan pengeringan dan dimanfaatkan untuk pemeliharaan atau maintenance,” pungkas Eko.(*)

Sumber: Diskominfo Jateng

Powered by Blogger.