Nur Sulistyowati, Wanita yang Sukses Jadi Pengusaha Penyalur TKI - ini kebumen | Media Rujukan Kebumen

Nur Sulistyowati, Wanita yang Sukses Jadi Pengusaha Penyalur TKI

www.inikebumen.net KEBUMEN - Menjadi pengusaha sukses tidaklah mudah, butuh perjuangan dan keuletan untuk mendapatkannya. Seperti yang telah dilakoni Nur Sulistyowati. Sosok pengusaha penyalur Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang suka menghadapi tantangan, ulet, tangguh, tak mengenal lelah dan selalu memberikan perhatian lebih kepada pahlawan devisa negara itu.

Kisah Nur Sulistyowati
Nur Sulistyowati
Dalam menjalankan aktifitasnya sebagai penyalur TKI, Nur Sulistyowati tidak menutup mata dan mengakui ada saja TKI di luar negeri yang bermasalah. Tapi dengan kepiwaiannya dalam menjalankan usahanya, Nur sapaan akrabnya, selalu dapat menyelesaikan masalah dengan dibantu  Asosiasi Perusahaan Jasa TKI (APJATI) yang ada di Kebumen serta instansi terkait.
 
Nur mengatakan, jika keberhasilan yang diraihnya tidak datang begitu saja, atau turun dari langit. Berbagai jalan berliku telah dilalui dan akhirnya, dia pun dapat menikmati jerih payahnya bersama suami dan anak-anaknya.
 
Kesuksesan perempuan ini berawal ketika tahun 1997 mengadu nasib di Singapura sebagai TKW selama lima tahun. Kemudian karena merasa belum cukup untuk modal usaha, pada 2001 dia berangkat kembali ke Taiwan hingga 2005.
 
Karena punya kemauan dan cita-cita yang tinggi,  pulang dari Taiwan langsung bekerja di perusahaan pelaksana penempatan TKI Swasta (PPTKIS), PT Hasrat Insan Nuraini. Namun dia hanya delapan bulan bekerja disana dia memutuskan keluar dan bergabung dengan PT Megah Utama. Sejak itulah wanita 35 tahun ini namanya mulai dikenal. Pada  2008 dia pun dipercaya oleh PT Megah Utama untuk membuka cabang di Kebumen.
 
Bukan Nur jika usahanya tak berkembangnya pesat. Karena ambisinya ingin menjadi orang yang berhasil, maka pada 2011 dia pindah ke perusahaan PT Dafa Putra Jaya. Dalam kurun waktu dua tahun usahanya berkembang pesat. Akan tetapi, pada 2012 akhir PT Dafa Putra Jaya ijinnya dicabut. Sekali lagi bukan Nur, jika cepat putus asa. Dengan dicabutnya ijin PT Dafa Putra Jaya, Nur malah pergi ibadah Umrah. Saat Umrah itulah dia berusaha menenangkan dan intropeksi diri.
 
Sepulang Umrah, wanita warga RT 3 RW 3 Desa Kedungsari, Kecamatan Klirong, ini memutuskan bergabung dengan PT Arni Family. Dan bekas kantor PT Dafa Putra Jaya dijadikan Kantor sekaligus tempat penampungan calon TKI oleh PT Arni Family hingga sekarang.
 
Sebagai pengusaha penyalur TKI, dia berharap agar pemerintah memberikan dukungan politik terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) TKI dan fasilitas kemudahan pengiriman. Pasalnya, dia bersama PJTKI masih merasakan sulitnya mengurus dokumen TKI yang akan dikirim ke luar negeri.
 
Dia menilai hingga saat ini, dukungan pemerintah dalam pengiriman TKI ke luar negeri belum optimal. Di satu sisi, pemerintah berharap agar TKI memberikan sumbangan devisa yang sangat besar. "Disisi lain, pemerintah kurang memberikan dukungan kepada PJTKI dalam rangka mengembangkan bisnis TKI," ujarnya.
 
Saat ditanya soal keuntungan, sembari tertawa renyah, Nur mengatakan ada tapi sedikit. Sebab, biaya untuk mengurus TKI sejak rekrutmen dari desa-desa, masuk ke Balai Latihan Kerja (BLK) hingga dikirim ke negara tujuan banyak biaya. Terdapat 13 dokumen yang harus diurus untuk mengirim satu orang TKI.

"Kalau dokumen ini bisa dipangkas bahkan biaya paspor dan fiskal dibebaskan, sangat baik. Itu namanya pemerintah memberikan kemudahan bagi pelaku bisnis TKI," kata Nur yang kini juga sedang mengembangkan bisnis tour and traveling.
 
Suksesnya Nur bukan karena keberhasilannya semata, namun juga karena kedermawanannya. Setiap setahun dua kali, dia memberikan santunan anak-anak yatim, piatu dan orang tua jompo di lingkungan tempat tinggalnya. Bahkan kedermawanannya tetap mengalir ke masyarakat lain melalui Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM), seperti ke Desa Bandung, Desa Kalijirek, Desa Adikarso, di Kecamatan Kebumen.(*)
Powered by Blogger.
}); })(jQuery); //]]>