Tak Berimbangnya Amar Makruf Nahi Munkar, Ikut Picu Tingginya Kasus HIV

Oleh: Kang Juki
Kasus HIV barangkali bisa menjadi contoh siksaan yang tidak khusus menimpa para pelaku maksiat saja. Orang baik bisa terinveksi HIV karena ada orang di lingkungan terdekatnya yang juga terinveksi HIV.
Tak Berimbangnya Amar Makruf Nahi Munkar, Ikut Picu Tingginya Kasus HIV
Kang Juki
www.inikebumen.net PERINTAH Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 104 sudah jelas, "Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung."

Namun dalam keseharian, bisa dilihat ketidakseimbangan antara kegiatan untuk menyeru pada kebajikan, amar makruf dan nahi munkar.

Banyak orang yang mau menyeru pada kebajikan dan beramar makruf, tapi hanya sedikit yang mau melakukan nahi munkar. Kondisi ini bisa dilihat baik di lingkungan terkecil seperti keluarga, maupun lingkungan yang lebih luas, tingkat RT, RW dan seterusnya.

Yang mengajak orang bersedekah sudah banyak, tak hanya melalui media sosial (medsos), tapi juga pesan pribadi. Publikasi untuk ikut kajian agama sudah banyak ditemui. Demikian juga ajakan untuk mengerjakan shalat tepat waktu. Tapi apa yang terjadi ketika dalam suatu lingkungan ada yang bermaksiat?

Kabid Pemberdayaan Perlindungan Perempuan dan Anak Dispermades P3A Kebumen, Marlina Indriyaningrum, menginformasikan bahwa salah satu penyebab tingginya angka ibu rumah tangga Kebumen terkena HIV/AIDS adalah banyaknya mantan TKW (tenaga kerja wanita) yang tertular suaminya sepulang dari luar negeri (inikebumen.net, Rabu, 20 November 2019).

Diakui atau tidak, fakta itu menunjukkan sebagian suami yang istrinya menjadi TKW melakukan aktivitas penyebab terinveksi HIV, misalnya berhubungan dengan wanita lain. Apakah kerabatnya tidak mengetahui aktivitas tersebut? Mestinya gejala-gejala aktivitas tersebut tampak, tapi kerabatnya dengan berbagai dalih berusaha menutup diri untuk menerima informasi.

Bisa berdalih tidak mau suudhon, menganggap si Fulan orang alim, tidak mungkin berbuat yang dilarang agama. Meskipun berbagai peristiwa memperkuat indikasi tersebut.

Sosiolog Amerika, Thorstein Veblen, menilai gejala semacam itu dengan istilah "ketidakmampuan menjadi terlatih". Istilah ini dipakai sejarawan militer Inggris Ronald Lewin (George Ronald Lewin CBE) untuk menganalisa penyebab kekalahan Jerman dalam Perang Dunia II.

Naluri profesional para pemimpin militer Jerman sebenarnya mengingatkan bahwa suatu malapetaka telah menimpa mereka. Tapi seperti diungkapkan Lewin, "Benak mereka telah dipaksa dan diatur untuk meyakini bahwa Enigma (mesin sandi mereka) sepenuhnya aman. Dan dengan demikian, mereka tidak mampu melakukan penilaian secara obyektif terhadap setiap indikasi yang menunjukkan bahwa mesin itu telah tidak aman lagi."

Dalam skala lebih kecil mungkin ada yang mengalami, "ketidakmampuan untuk menjadi terlatih". Sudah mendapat sinyal negatif, masih menanggapi dengan "Ah tidak mungkin...", "Masa dia begitu!" dan lain sebagainya. Akhirnya menganggap tidak terjadi apa-apa dan merasa tidak harus melakukan kewajiban apa-apa.

Baca juga: Ibu Rumah Tangga Dominasi Jumlah Pengidap HIV/AIDS di Kebumen, Ini Penyebabnya

Setelah ada kerabat yang terinveksi HIV baru muncul penyesalan. "Oh ternyata dia ...", "Tidak ada yang menyangka kalau dia ..." dan berbagai ungkapan seolah-olah menunjukkan keterkejutan.

Dalam surat Al Anfal ayat 25, Allah SWT mengingatkan, "Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya."

Kasus HIV barangkali bisa menjadi contoh siksaan yang tidak khusus menimpa para pelaku maksiat saja. Orang baik bisa terinveksi HIV karena ada orang di lingkungan terdekatnya yang juga terinveksi HIV.

Hal ini semestinya membangkitkan kesadaran untuk lebih menggiatkan aktivitas nahi munkar, sejak dari lingkungan terkecil dan terdekat. Orang bijak berpendapat, dunia semakin rusak bukan karena banyaknya orang jahat, melainkan karena banyaknya orang baik yang diam saat melihat ada tindak kejahatan.

Keberhasilan mencegah memang tidak akan terlihat, yang tampak adalah saat gagal. Karena itulah banyak orang yang enggan melakukannya. Apalagi orang yang nahi munkar tak sedikit kemudian malah dikucilkan lingkungannya, dianggap sulit kompromi, menghambat kesenangan orang dan lain sebagainya.

Apakah menunggu keadaan sangat parah baru menyadari pentingnya melakukan nahi munkar? Wallahu a'lam bish-shawab.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.