Yazid Mahfudz, Bupati Kebumen Pertama Kunjungi Desa Giripurno

Tak heran, banyak warga yang mengajak selfi orang nomor satu di Kabupaten Kebumen
Yazid Mahfudz, Bupati Kebumen Pertama Kunjungi Desa Giripurno
Bupati Kebumen foto bersama dengan masyarakat Desa Giripurno Kecamatan Karanganyar
www.inikebumen.net KARANGANYAR - Bupati Kebumen Yazid Mahfudz, disambut ribuan warga saat meresmikan dan monitoring Program BPM Kotaku di Giripurno, Kecamatan Karanganyar, Kamis, 14 November 2019.

Bagi masyarakat setempat, kedatangan Yazid Mahfudz sangat istimewa. Hal ini lantaran Gus Yazid (sapaannya) menjadi Bupati Kebumen pertama yang mengunjungi desa tersebut.

"Ini baru pertam kali ada bupati yang datang ke Giripurno," tutur Fitri, salah satu warga setempat.

Tak heran, banyak warga yang mengajak selfi orang nomor satu di Kabupaten Kebumen.

Turut hadir mendampingi bupati, Kepala Disperkim LH Kebumen Edi Rianto, Kepala Dispermades P3A Kebumen Frans Haidar. Camat Karanganyar Prawoto, Forkopimcam Karanganyar, Pimpinan Padepokan Sehat Medika (SM) Karanganyar R Suman Sri Husodo.

Desa Giripurno menjadi salah satu desa sasaran program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) tahun ini. Awalnya luas kawasan kumuh di desa tersebut mencapai 30,113 hektar. Pada 2019 luasan kumuh berhasil dikurangi 17,88 hektar atau tertangani 59,38 persen, atau masih menyisakan 12,23 hektar. 

Upaya penanganan kawasan kumuh di desa tersebut menggunakan Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat (BPM) Program Kotaku 2019 sebesar Rp 2 miliar. Selain itu, juga juga didukung Dana Alokasi Khusus (DAK) sanitasi untuk pembangunan tangki septik individu sejumlah 57 unit masing-masing Rp 4 juta atau total Rp 228 juta.

Kemudian, bantuan APBD Provinsi Jawa Tengah untuk 3 RTLH dengan besaran bantuan per unit Rp 10 juta atau total Rp 30 juta.

Bupati Yazid Mahfudz, mengatakan luasan kumuh Kabupaten Kebumen mencapai 442,0720 hektar. Luas kumuh di lokasi Kotaku 275,824 hektar dan luas kumuh di lokasi non Kotaku 166,248 hektar.

Pada tahun 2019, Kabupaten Kebumen mendapatkan dana BPM (Bantuan Pemerintah untuk Masyarakat) dari Kotaku senlai Rp 20 miliar untuk 15 BPM/Desa.

"Dengan estimasi kumuh mencapai 212,57 hektar. Sehingga di lokasi kotaku pada akhir tahun 2019 sisa kumuhnya tinggal 63,554 hektar," kata Yazid Mahfudz.(*)
Powered by Blogger.