Berbeda Tak Harus Bertentangan (Bagian II-Selesai)

Oleh: Kang Juki
Berbeda Tak Harus Bertentangan (Bagian II-Selesai)
Dokumen keluarga KH Achmad Moetawalli
www.inikebumen.net DINAMIKA pemahaman tentang ajaran Islam juga mewarnai interaksi di kalangan tokoh-tokoh di lingkungan Masjid Agung Kauman Kebumen pada masa lalu.

Seperti KH Sururuddin Wijayakusuma rahimahullah (Ayahanda mantan Bupati Kebumen KH Nashiruddin Al Mansyur), KH Mahfudz Hasbulloh rahimahullah (Ayahanda Bupati Kebumen KH Yazid Mahfudz), KH Achmad Moetawalli rahimahullah (Ayahanda saya) dan KH Abdurrahman Siddiq rahimahullah.

KH Sururuddin melalui sebuah surat, pernah menanggapi pengajian yang disampaikan KH Achmad Moetawalli karena menggunakan rujukan kitab Fiqh As-Sunnah karya Sayyid Sabiq, yang dianggap tak bermadzhab.

Berbeda dengan warga Muhammadiyah yang menganut prinsip ittiba' (mengikuti apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW) tanpa harus mengikuti madzhab tertentu. Kalangan nahdliyin menganggap wajib hukumnya menganut salah satu dari madzhab 4 imam: Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafii dan Imam Hambali.

Mendapat tanggapan tersebut jawaban KH Achmad Moetawalli sederhana, karena memahami orang yang mengikuti pengajiannya bisa memiliki madzhab yang berbeda. Maka dijelaskan pendapat keempat madzhab tersebut. "Jangan sampai mengaku bermadzhab Syafii tapi malah tidak tahu pendapat madzhab Syafii tentang suatu masalah," jelasnya.

Dinamika pendapat tersebut tak banyak diketahui orang, termasuk putra-putri kedua tokoh itu. Meski demikian hubungan kedua tokoh tetap baik. Tiap usai shalat Idul Fitri di Masjid Agung, KH Sururuddin akan menyinggahi rumah KH Achmad Moetawalli yang dekat Masjid Agung, tapi shalat Idul Fitri di Alun-alun Kebumen.

Seorang guru ngaji di Karanggayam, Amir Mutasir (73) yang mengaku pernah menjadi muridnya KH Achmad Moetawalli menceriterakan, langkah gurunya itu mengajak KH Sururuddin bergabung ke Pengadilan Agama (PA) Kebumen. Saat itu PA masih menyewa tempat di sebelah timur kediaman KH Sururuddin yang sekarang ditempati KH Nashiruddin Al Mansyur.

Baca juga: Berbeda Tak Harus Bertentangan (Bagian I)

KH Sururuddin mempunyai tambahan nama Wijayakusuma sebagai pengingat pernah ditahan di Nusakambangan, karena ikut AOI yang dianggap memberontak kepada NKRI. Dengan latar belakang tersebut sebenarnya tidak mudah untuk menjadi pegawai negeri sipil (PNS).

Namun KH Achmad Moetawalli yang menjabat Ketua PA Kebumen periode 1958-1973, bisa mengajak KH Sururuddin bergabung ke PA. Ketika kemudian pada tahun 1973, KH Achmad Moetawalli dilantik menjadi Kepala Kantor Depag (sekarang Kemenag) Kabupaten Kebumen, tak lama kemudian KH Sururuddin juga dipromosikan menjadi Kepala KUA Kecamatan Kebumen.

Dinamika hubungan kedua tokoh ini menunjukkan bahwa berbeda tak harus selalu bertentangan, apalagi saling meniadakan. Meski kadang berbeda pendapat, KH Achmad Moetawalli tetap mendorong karir KH Sururuddin di Depag, bukan malah menghambat, apalagi mematikan.

Lain lagi hubungan KH Achmad Moetawalli dengan KH Abdurrahman Siddiq. Suatu saat dalam pengajian KH Achmad Moetawalli menyinggung masalah kiriman pahala baca Al Quran yang dalam kitab Irsyadul 'Ibad hanya didasarkan pada mimpi.

KH Abdurrahman Siddiq menanggapinya juga dengan santai. Setidaknya kalau orang bersama-sama membaca Al Quran jadi lebih bersih hatinya, sehingga saat mendoakan orang yang sudah meninggal insya Allah makbul.

Lain lagi hubungan KH Achmad Moetawalli dengan KH Machfudz Hasbulloh. Di masa KH Achmad Moetawalli menjadi Kepala Kandepag Kabupaten Kebumen, 1973-1978 salah seorang putra KH Mahfudz Hasbulloh yakni Gus Wahib (KH Wahib Mahfudz yang sekarang memimpin PP Al Huda Jetis), meraih prestasi menjadi Juara I MTQ tingkat Provinsi Jateng dan MTQ Nasional IX untuk golongan remaja tahun 1976 di Samarinda, Kaltim.
Berbeda Tak Harus Bertentangan (Bagian II-Selesai)
Dokumen keluarga KH Achmad Moetawalli
Pada tahun 1976 itu Kabupaten Kebumen menjadi juara umum MTQ tingkat Provinsi Jawa Tengah, setelah qari golongan dewasa putra, yakni Sonhaji juga berhasil menjadi juara I. Atas prestasinya sebagai Juara I tingkat nasional golongan remaja, Gus Wahib diminta menjadi pembaca Al Quran saat Peringatan Nuzulul Quran di Istana Merdeka, bulan Ramadhan 1396 H.

Dinamika hubungan para tokoh di masa lalu ini, patut jadi pelajaran para tokoh masa sekarang yang mestinya bisa meredam gejolak emosi saat terjadi perbedaan agar tidak selalu menjadi pertentangan yang berujung konflik.

Terkait masalah MTA, tentu harus ada pihak yang mau menengahi dialog kedua belah pihak, warga MTA dan mereka yang menentang kehadirannya, apa yang menjadi keberatan masing-masing.

Ketika ada kajian ajaran Islam yang memunculkan pemahaman berbeda dari umumnya masyarakat, mestinya ditanggapi dengan kajian juga. Perbedaan pendapat hanya bisa dikonsumsi oleh mereka yang mau berpikir, bukan memaksakan kehendak dengan adu kekuatan.

Di kalangan NU ada  bahtsul matsaail, di Muhammadiyah ada majelis tarjih, dan di MUI ada komisi fatwa. Mestinya institusi-institusi itu bisa membahas apa yang menjadi polemik dan menyosialisasikan hasilnya kepada umat Islam.

Apapun pemikiran dan pendapat orang atau sekelompok orang, saat masih mengaku beragama Islam semestinya akan menaati perintah Allah SWT untuk saling menasehati tentang kebenaran dan kesabaran.

Firman Allah SWT dalam surat Al Hujurat ayat 10,  "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat."

Wallahu a'lam bish-shawab.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.