Menjaga Keutuhan dan Ketahanan Keluarga

Oleh: Kang Juki
Menjaga Keutuhan dan Ketahanan Keluarga
Kang Juki
www.inikebumen.net BERITA perceraian Ustadz Abdul Somad (UAS) yang muncul di berbagai media, mestinya menjadi pelajaran bagi kita semua. Tidak mudah untuk bisa menjaga keutuhan dan ketahanan keluarga.

Realita di Kebumen menguatkan hal itu. Angka perceraian dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Jika pada tahun 2017 ada 2.736 kasus perceraian yang diputuskan Pengadilan Agama Kebumen, maka pada tahun 2018 ada 2.818 yang diputus dari 2.932 kasus yang masuk. Untuk tahun ini, sampai 6 Desember 2019 sudah 2.898 kasus perceraian yang didaftarkan.

Yang tidak bercerai bukan berarti keluarganya masih utuh. Tidak sedikit yang statusnya mengambang. Secara formal masih ada ikatan pernikahan, namun realitanya sudah hidup sendiri-sendiri. Yang PNS atau pensiunan PNS status formal pernikahan dipertahankan hanya agar tunjangan istri/suami tidak dihapus.

Alasan lain sekadar tidak menyandang status duda atau janda, karena merasa pergaulannya jadi diawasi masyarakat. Biasanya kalau salah satu pihak hendak menikah lagi, baru proses perceraian diurus. Kasus seperti ini sering ditemui tapi belum bisa diperoleh angka yang pasti.

Keluarga yang utuh, suami, istri dan anak-anak bisa berkumpul, masih rentan masalah. Ketahanan keluarganya terkadang rapuh. Perilaku masing-masing anggota keluarga lebih banyak dipengaruhi orang lain. Keluarga tidak menjadi tempat pembentukan karakter anak-anak dan pengembangan karakter suami-istri.

Akibatnya dalam satu keluarga, antara ayah, ibu dan anak, tidak mustahil memiliki perbedaan visi yang tajam tentang hidup ini. Sehingga suatu saat ada anggota keluarga yang berubah keyakinan dan berganti agama. Bisa jadi karena kedekatan dengan orang lain yang akan menjadi suami atau istrinya, atau karena faktor lingkungan lainnya.

Padahal keluarga seharusnya menjadi kelompok terkecil dengan intensitas interaksi terkuat di tengah masyarakat. Allah SWT mengingatkan dalam surat At Tahrim ayat 6,

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Dua ulama Mesir, yakni Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuthi, dalam kitab tafsirnya yang dikenal dengan nama Tafsir Jalalain, memberi penjelasan tentang ayat tersebut.

Yang dimaksud memelihara diri dan keluarga dari api neraka adalah dengan mengarahkan keluarganya pada jalan ketaatan kepada Allah SWT dan menjauhi maksiat. Karena dengan cara itu manusia bisa terhindar dari siksa api neraka.

Semestinya melalui keluarga, ajaran kebaikan ditanamkan, prinsip kebenaran dibangun dalam diri seseorang. Ironisnya banyak orang tua sekarang yang berpikiran tugasnya hanya mencari biaya pendidikan anak-anaknya.

Sentuhan pendidikan keluarga, baik dari ayah atau ibunya, nyaris tidak ada dengan sejumlah alasan yang cenderung hanya untuk pembenaran.(*)

Kang Juki
Penulis adalah jamaah Masjid Agung Kauman, Kebumen.
Powered by Blogger.