Pasutri ini Merintis Rumah Tahfidz, Anak Sendiri Ikut Menjadi Santrinya

Aziz siap menampung anak yatim atau dhuafa yang ingin menjadi hafidz tapi kekurangan biaya. Bagi yang tertarik bisa berkunjung ke Rumah Tahfidz Daar Al Furqon  beralamat di Gang Masjid 1, Dukuh Kauman RT 05 RW 02 Desa Kutosari (persis belakang Masjid Agung Kauman, Kebumen).
Pasutri ini Merintis Rumah Tahfidz, Anak Sendiri Ikut Menjadi Santrinya
Foto Azis dan keluarga (Foto: Istimewa)
www.inikebumen.net KEBUMEN - Selain menjadi guru mengaji, Aziz Abdurrahim Umar Basyir bersama istrinya Iswah Zuhri Basyir juga mulai merintis rumah tahfidz yang diberi nama Daar Al Furqon pada tahun 2014.

"Nama Daar Al Furqon yang berarti Rumah Al Quran dimaksudkan agar pesantren ini dapat menjadi tempat mencetak kader-kader Islam yang Qurani," jelas Aziz, Sabtu, 28 Desember 2019.

Pasangan suami istri (pasutri) Aziz-Iswah sehari-harinya mengajar di TPQ Masjid Agung Kauman Kebumen.

Aziz merupakan putra bungsu Abdurrahim rahimahullah, muadzin Subuh Masjid Agung, yang dikenal dengan suara khasnya saat melantunkan puji-pujian sebelum mengumandangkan iqamah.

Di Masjid Agung memang hanya saat Subuh dikumandangkan puji-pujian sebelum iqamah, memberi kesempatan lebih lama agar jamaah tidak terlambat datang di masjid.

Terhitung sejak 7 Juli 2007, Aziz mulai mengajar TPQ Masjid Agung Kebumen. Sementara Iswah mulai mengajar 4 tahun kemudian.

"Kebetulan sejak awal mengajar, saya dipercaya mengampu kelas Tajwid dan Quran," terang Aziz.

Berbeda dengan Iswah yang sempat berpindah-pindah kelas, sebelum akhirnya mengajar kelas Iqra jilid 1. Di TPA Masjid Agung yang kini memiliki 150 orang santri, dibagi menjadi 8 kelas. Yakni 6 kelas untuk Iqra jilid 1-6, kelas Ghorib serta kelas Tajwid dan Quran.

Aziz dan Iswah juga sama-sama pernah mengikuti program takhasus tahfidz Al Quran di Ponpes Daar Al Furqon, Kudus yang diasuh Pakdenya Aziz, KH S Abdul Qodir Umar Basyir. Dari sini yang kemudian membuat Aziz dan Iswah termotivasi membuka rumah tahfidz di Kebumen.

"Di Kudus, selesai dari Ponpes Daar Al Furqon, saya melanjutkan nyantri ke Ponpes Nurul Abror yang diasuh K Asnawi Abdul Qohhar dan melanjutkan belajar Al Quran ke KH Sholeh," kata Aziz yang juga alumni IAINU Kebumen ini.

Sambil merintis rumah tahfidz, Azis juga tabarrukan dengan Imam Masjid Agung Kebumen KH Agus Fikri Abdul Kholiq (Pengasuh Ponpes Daarul Quran) dan K Nurul Anwar (Pengasuh Ponpes Riyadhus Shalihin, Demak).

"Dari awal komitmen, saya mendirikan rumah tahfidz memang benar-benar tanpa biaya," cerita Aziz yang memang ingin membantu para santri yang sudah berniat mengaji tapi tak punya biaya.

Sedangkan bagi Iswah, mengajar Al Quran menurutnya membuat hidupnya terasa lebih berwarna.

"Bahagia mendengar suara santri mengaji dan mengajari mereka huruf demi huruf hijaiyyah," ungkap Iswah.

Begitu cintanya Iswah dengan aktivitas mengajar Al Quran, membuatnya tak sanggup terlalu lama meninggalkan aktivitas tersebut. Saat melahirkan putri ketiganya, Iswah hanya cuti sepekan setelah melahirkan.
Pasutri ini Merintis Rumah Tahfidz, Anak Sendiri Ikut Menjadi Santrinya
Tempat yang digunakan untuk mengajari santrinya
"Tidak tega melihat anak didik saya tidak ada yang mengajar karena kekurangan tenaga guru," cerita Iswah.

Putri ketiganya yang baru berusia sepekan pun dibawanya ke TPQ. "Diletakkan di atas meja mengaji sembari menunggui anak-anak santri TPQ mengaji," kenangnya.

Terkait santri rumah tahfidznya, Aziz menjelaskan untuk tahun 2020 sudah ada 7 orang. Santri yang menghafal sekarang ada 2 santri mukim (menginap).

"Tiga anak-anak saya dan 2 orang dilaju (tidak menginap). Insya Allah pertengahan bulan Januari ada yang masuk lagi seorang dari Tegal dan seorang dari Sulawesi, keduanya sudah  memberi konfirmasi," jelas Aziz.

Menurut perkiraan Aziz dengan program takhasus tahfidz diperkirakan selama 3 tahun santri insya Allah bisa tahfidz, tahsin dan mutqin 30 juz. "Ditambah tabarrukan sekitar setahun," imbuhnya.

Bagi santri yang mau mukim, Rumah Tahfidz Daar Al Furqon menyediakan fasilitas tempat tinggal, makan 3x sehari, mushaf Al Quran, rak baju, sertifikat tahfidz dan bila bisa khatam 30 juz dengan baik akan mendapat sanad. "Semuanya gratis," jelas Aziz.

Karena itu Aziz siap menampung anak yatim atau dhuafa yang ingin menjadi hafidz tapi kekurangan biaya. Sekaligus menerima dengan tangan terbuka jika ada pihak yang mau memberikan donasi untuk kelancaran belajar santrinya.

Bagi yang tertarik bisa berkunjung ke Rumah Tahfidz Daar Al Furqon yang beralamat di Gang Masjid 1, Dukuh Kauman RT 05 RW 02 Desa Kutosari (persis belakang Masjid Agung Kauman, Kebumen).(*)
Powered by Blogger.