pendaftaran mahasiswa baru UPB

Puasa dan Covid 19, Ujian Dunia Akhirat

Oleh: Yuniati Zainul Khasanah

Puasa dan Covid 19, Ujian Dunia Akhirat
Yuniati Zainul Khasanah
INI Kebumen - PEMBERITAAN orang terpapar corona virus disease 2019 (covid 19) memang sudah tak seheboh bulan-bulan awal covid 19 dinyatakan sudah masuk Indonesia. 

Namun tak berarti jumlah orang terpapar covid 19 sudah menurun atau malah tidak ada. Fluktuasi masih terjadi, termasuk jumlah pasien meninggal dunia.

Dalam situasi seperti itu Ramadhan kembali datang menyapa umat Islam. Kesenyapan bulan Ramadhan tahun lalu akibat pandemi covid 19 ternyata bukan yang pertama dan terakhir. Tahun ini masih harus berulang. 

Tingkat ketaatan terhadap protokol kesehatan (prokes) kian bervariasi dan sikap ngotot juga meningkat saat ada perbedaan persepsi. Seperti masalah menjaga jarak dalam shalat jamaah dan kewajiban memakai masker saat shalat.

Sebagai umat Islam yang meyakini kekuasaan tunggal di tangan Allah SWT, situasi ini menghadirkan ujian dunia-akhirat sekaligus dalam beribadah dan bermuamalah. Di bulan Ramadhan, aktivitas ibadah dan muammalah meningkat, dari shalat berjamaah di masjid, pendistribusian ZIS sampai jual beli barang dan jasa. 

Kedua jenis aktivitas tersebut melibatkan interaksi manusia, maka saat pandemi seperti sekarang, selain memperhatikan syarat rukunnya juga harus mengindahkan prokes untuk menekan penyebaran covid-19.

Aktivitas di bulan Ramadhan menjadi ujian dunia akhirat, karena apa yang dilakukan selama bulan Ramadhan berdampak langsung terhadap kehidupan dunia dan akhirat. Berdampak terhadap kehidupan dunia, karena saat prokes tidak ketat diterapkan, resiko terpapar covid-19 sangat mungkin terjadi pada siapa saja. 

Sudah tentu aktivitas di bulan Ramadhan berdampak pula pada kehidupan akhirat, sebab apa saja yang dilakukan di dunia kelak harus dipertanggungjawabkan di akhirat.

Munculnya kluster penyebaran covid-19, bisa terjadi hanya karena kecerobohan satu-dua orang dalam suatu kerumunan. Karena virus sesuatu yang tidak tampak, sehingga jika di tengah kerumunan ada satu-dua orang yang tak disiplin menerapkan prokes, bisa menjadi media penyebaran virus. 

Seperti yang terjadi dalam kluster jamaah shalat tarawih di Banyumas, Jumat (30/4) lalu. Berawal dari seorang yang ternyata sudah terpapar covid-19 ikut jamaah shalat tarawih, menyebabkan 45 orang jamaah lainnya kemudian dinyatakan terpapar covid-19. 

Jadi menjalankan prokes saja tidak cukup, tanpa mengingatkan orang-orang di sekitar untuk taat prokes juga. Ibarat pepatah "karena nila setitik, rusak susu sebelanga". Seorang saja yang tidak disiplin menerapkan prokes, puluhan orang di sekitarnya bisa terkena.

Dalam kaitan ini, bisa dianalogikan dengan ketaatan masyarakat terhadap hukum seperti yang digambarkan dalam sebuah hadis. 

Dari Nu'man bin Basyir ra bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, 

"Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang diam terhadapnya seperti sekelompok orang yang berlayar dengan sebuah kapal lalu sebagian dari mereka ada yang mendapat tempat di atas dan sebagian lagi di bagian bawah perahu. Lalu orang yang berada di bawah perahu bila mereka mencari air untuk minum mereka harus melewati orang-orang yang berada di bagian atas seraya berkata, 'Seandainya boleh kami lubangi saja perahu ini untuk mendapatkan bagian kami sehingga kami tidak mengganggu orang yang berada di atas kami'. Bila orang yang berada di atas membiarkan saja apa yang diinginkan orang-orang yang di bawah itu maka mereka akan binasa semuanya. Namun bila mereka mencegah dengan tangan mereka maka mereka akan selamat semuanya". (HR Bukhari no. 2313 dishahihkan ijmak ulama).

Pesan sederhana dari hadis tersebut, ulah satu orang jika dibiarkan cukup untuk membuat semua penumpang perahu binasa. Tapi bila ada yang mau mengingatkan, akan menyelamatkan semua.

Menaati prokes, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak, utamanya diri sendiri yang mengontrol. Seperti halnya menjalankan ibadah puasa, hanya diri sendiri pula yang bisa memastikan melakukannya. 

Ketika ada orang yang tidak menaati prokes dalam suatu kerumunan perlu ditegur, seperti halnya seorang penumpang yang hendak melubangi kapal. Kalau tidak ada yang menegur, maka tak tertutup kemungkinan muncul kluster baru lagi.

Ramadhan di tengah pandemi ini bisa jadi momentum mendisiplinkan diri sekaligus reaktualisasi gerakan disiplin nasional. Karena disiplin atau tidak akibatnya bisa sama, jika berada di lingkungan masyarakat yang kurang disiplin. 

Hasilnya antara lain bisa diindikasikan dari naik turunnya jumlah orang yang terpapar covid-19. Harapannya seiring berakhirnya Ramadhan nanti, berakhir pula pandemi covid-19, minimal bisa menurun, jangan sampai malah meningkat karena larangan mudik banyak dilanggar.(*)

Yuniati Zainul Khasanah, Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi Pengurus Cabang Persatuan Wanita Republik Indonesia (Perwari) Kabupaten Kebumen.

Powered by Blogger.